Mayoritas makanan kemasan kita diam-diam kelebihan gula, garam, lemak.
Studi terbaru CISDI dan CHeNECE Universitas Airlangga menemukan sekitar 9 dari 10 produk makanan kemasan di Indonesia tinggi gula, garam, dan lemak (GGL), serta mengandung pemanis non-gula berisiko. Temuan ini menyoroti masalah obesitas dan penyakit tidak menular (PTM) sebagai isu sistemik yang membutuhkan intervensi kebijakan lebih tegas dari pemerintah dan perubahan perilaku konsumen. Artikel ini mendesak adopsi standar gizi ketat dan edukasi publik untuk menciptakan lingkungan pangan yang lebih sehat.

Sebuah temuan mengejutkan baru-baru ini mengguncang kesadaran publik mengenai kualitas makanan yang kita konsumsi sehari-hari. Pusat Studi dan Advokasi Kesehatan, CISDI (Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives), bersama dengan Center for Health and Nutrition Education, Counseling, and Empowerment (CHeNECE) dari Universitas Airlangga, merilis sebuah studi yang mengklaim bahwa sekitar 9 dari 10 produk makanan kemasan yang beredar di Indonesia mengandung kadar gula, garam, dan lemak (GGL) yang tinggi. Lebih lanjut, studi ini juga menyoroti penggunaan pemanis non-gula yang, jika dikonsumsi secara terus-menerus dalam jangka panjang, berpotiko menimbulkan masalah kesehatan.
Klaim ini bukan sekadar angka biasa, melainkan cerminan nyata dari lingkungan pangan di Indonesia yang dinilai telah didominasi oleh produk-produk yang jauh dari kata sehat. Studi yang menganalisis 8.077 sampel produk makanan dan minuman kemasan dari delapan supermarket serta minimarket di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan, dan Makassar ini, mengindikasikan bahwa persoalan malnutrisi—terutama terkait obesitas dan penyakit tidak menular (PTM)—bukan lagi sekadar pilihan individu, melainkan masalah sistemik yang perlu diatasi secara struktural melalui kebijakan yang lebih tegas.
Konteks & Latar Belakang
Isu kandungan GGL tinggi dalam makanan kemasan bukanlah hal baru di kancah kesehatan global. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah lama memperingatkan dampak serius konsumsi GGL berlebih terhadap peningkatan risiko penyakit kronis seperti diabetes tipe 2, penyakit jantung, stroke, dan hipertensi. Di Indonesia, dengan laju urbanisasi yang pesat dan perubahan gaya hidup modern, ketergantungan pada makanan kemasan semakin meningkat. Makanan jenis ini seringkali menjadi pilihan praktis dan terjangkau di tengah kesibukan masyarakat, namun tanpa disadari, ia turut menyumbang pada epidemi obesitas dan PTM yang terus membayangi.
Dalam beberapa dekade terakhir, lanskap konsumsi masyarakat Indonesia telah bergeser drastis. Dari pola makan tradisional yang kaya serat dan nutrisi alami, kini banyak individu, terutama di perkotaan, beralih ke pilihan instan yang seringkali sarat dengan GGL tambahan. Pemasaran yang agresif, kemasan menarik, dan harga yang kompetitif membuat produk-produk ini sangat mudah diakses dan menjadi bagian tak terpisahkan dari diet sehari-hari. Oleh karena itu, penelitian CISDI dan CHeNECE hadir sebagai pengingat krusial bahwa kita perlu mengevaluasi kembali apa yang kita makan dan bagaimana makanan tersebut diproduksi serta dipasarkan.
Studi ini menggunakan Model Profil Gizi (Nutrient Profile Models/NPM) yang diakui secara internasional, termasuk model dari WHO Asia Tenggara (SEARO), WHO Pan-Amerika (PAHO), serta kerangka praktik terbaik dari WHO Afrika (AFRO) dan pembelajaran dari negara-negara Amerika Latin seperti Meksiko dan Cile. Penggunaan standar global ini memastikan bahwa penilaian terhadap produk makanan kemasan di Indonesia dilakukan dengan kriteria yang ketat dan berbasis bukti ilmiah, memberikan perspektif yang lebih objektif dan membandingkan kondisi lokal dengan standar kesehatan internasional.
Hasilnya memang cukup mencengangkan: 90 hingga 95 persen produk makanan kemasan dinilai tidak sehat berdasarkan Model Profil Gizi berbasis bukti internasional tersebut. Angka ini secara jelas menunjukkan bahwa mayoritas produk di pasaran kita belum memenuhi standar kesehatan yang direkomendasikan secara global. Bahkan, temuan ini juga menggarisbawahi adanya pemanis non-gula dalam sebagian besar produk, yang risikonya terhadap kesehatan jangka panjang masih perlu diwaspadai jika dikonsumsi terus-menerus tanpa kontrol.
Namun, di tengah urgensi ini, ada perbedaan signifikan dalam pendekatan. Indonesia sendiri tengah mengembangkan ambang batas Nutri-Level. Studi yang sama menunjukkan bahwa jika menggunakan ambang batas Nutri-Level versi Indonesia, hanya sekitar 73 persen produk yang akan dikategorikan tidak sehat. Perbedaan angka yang mencapai puluhan persen ini menimbulkan pertanyaan serius tentang efektivitas kebijakan nasional dalam melindungi kesehatan masyarakat. Trias Mahmudiono, Direktur CHeNECE dan Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, menekankan bahwa "Perbedaan ini menunjukkan bahwa ketepatan ambang batas sangat menentukan seberapa efektifnya suatu kebijakan. Jika terlalu longgar, banyak produk makanan tidak sehat yang tidak teridentifikasi." Ini berarti, kebijakan yang tidak cukup ketat berpotensi gagal dalam mencapai tujuan utama untuk mempromosikan lingkungan pangan yang lebih sehat.
Analisis & Dampak
Temuan studi ini memiliki implikasi yang mendalam bagi kesehatan masyarakat Indonesia. Tingginya prevalensi makanan kemasan tinggi GGL secara sistematis mendorong peningkatan angka obesitas dan PTM. Obesitas, yang seringkali menjadi pintu gerbang bagi berbagai PTM lainnya seperti diabetes, penyakit jantung koroner, dan stroke, bukan lagi masalah estetika melainkan krisis kesehatan publik yang membebani sistem layanan kesehatan dan produktivitas nasional. Anak-anak yang terpapar makanan tinggi GGL sejak dini juga berisiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan di kemudian hari, membentuk siklus penyakit yang sulit diputus.
Muhammad Zulfiqar Firdaus, Health Economics Research Associate CISDI, menegaskan bahwa ini bukan lagi sekadar soal edukasi individu, tetapi "soal desain sistem yang perlu diperbaiki." Pernyataan ini sangat krusial. Ini berarti, pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya harus bergerak dari pendekatan yang hanya berfokus pada perubahan perilaku individu, menuju intervensi struktural yang membentuk lingkungan pangan yang lebih mendukung pilihan sehat. Lingkungan pangan yang didominasi produk tidak sehat secara tidak langsung membatasi pilihan konsumen, bahkan bagi mereka yang sadar akan pentingnya nutrisi.
Dampak ekonomi dari prevalensi PTM akibat konsumsi GGL berlebih juga sangat besar. Biaya pengobatan PTM yang seringkali membutuhkan penanganan jangka panjang dan kompleks dapat menguras anggaran pribadi dan negara. Selain itu, produktivitas kerja yang menurun akibat penyakit juga berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, investasi dalam kebijakan pangan sehat sesungguhnya adalah investasi jangka panjang untuk kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan ekonomi bangsa.
Langkah Konkret untuk Masyarakat dan Pemerintah
Melihat urgensi temuan ini, ada beberapa langkah konkret yang bisa diambil baik oleh individu maupun pemerintah untuk menciptakan lingkungan pangan yang lebih sehat.
Untuk Konsumen (Tips Praktis):
- Baca Label Nutrisi dengan Cermat: Biasakan membaca informasi nilai gizi pada kemasan. Perhatikan jumlah gula, garam, dan lemak (terutama lemak jenuh dan trans) per sajian, bukan hanya per kemasan. Pilihlah produk dengan kadar GGL yang lebih rendah.
- Prioritaskan Makanan Segar: Kurangi ketergantungan pada makanan kemasan dan perbanyak konsumsi buah, sayur, biji-bijian utuh, serta sumber protein tanpa lemak.
- Masak Sendiri di Rumah: Memasak makanan sendiri memberikan kendali penuh atas bahan-bahan yang digunakan, sehingga Anda bisa mengurangi GGL tambahan.
- Waspadai Klaim Kesehatan: Jangan mudah tergiur dengan klaim seperti "rendah lemak" atau "tanpa gula tambahan" tanpa memeriksa label nutrisi secara detail. Kadang, produk rendah lemak justru tinggi gula, dan sebaliknya.
- Pahami Istilah Pemanis: Kenali berbagai nama lain untuk gula (misalnya sukrosa, glukosa, sirup jagung fruktosa tinggi) dan pemanis non-gula.
- Edukasi Diri dan Keluarga: Bagikan informasi ini kepada keluarga dan teman-teman untuk meningkatkan kesadaran kolektif.
Desakan untuk Pemerintah dan Industri Pangan:
- Adopsi Model Profil Gizi yang Lebih Ketat: Pemerintah perlu mengkaji ulang standar Nutri-Level nasional dan mempertimbangkan untuk mengadopsi ambang batas yang lebih ketat, sesuai dengan rekomendasi WHO dan praktik terbaik di negara lain.
- Implementasi Pelabelan Nutrisi yang Jelas dan Mudah Dipahami: Sistem pelabelan 'front-of-pack' seperti label peringatan bergambar (mirip di Meksiko atau Cile) atau sistem 'traffic light' dapat membantu konsumen membuat pilihan yang lebih sehat dengan cepat.
- Regulasi Pemasaran Makanan Tidak Sehat: Batasi pemasaran dan iklan produk tinggi GGL, terutama yang menargetkan anak-anak dan remaja, melalui media massa maupun media sosial.
- Insentif untuk Industri Pangan Sehat: Berikan insentif kepada industri yang berinovasi untuk mengurangi kandungan GGL dalam produk mereka atau mengembangkan pilihan yang lebih sehat.
- Meningkatkan Ketersediaan dan Keterjangkauan Makanan Sehat: Pemerintah dapat mendukung pertanian lokal, pasar tradisional, dan program pangan yang memastikan makanan segar dan bergizi tersedia serta terjangkau bagi semua lapisan masyarakat.
- Pengawasan dan Penegakan Kebijakan: Pastikan kebijakan yang telah ditetapkan dapat diimplementasikan dengan efektif dan diawasi secara ketat untuk menjamin kepatuhan industri.
Studi CISDI ini adalah sebuah seruan nyata bagi semua pihak—pemerintah, industri pangan, akademisi, masyarakat sipil, dan individu—untuk bertindak. Persoalan lingkungan pangan yang didominasi oleh produk tinggi GGL adalah tantangan multidimensional yang membutuhkan solusi komprehensif dan kolaboratif. Ini bukan hanya tentang menekan angka GGL dalam kemasan, tetapi juga tentang membangun masa depan Indonesia yang lebih sehat dan berdaya.
Dengan kesadaran kolektif dan kebijakan yang berani, kita dapat mengubah narasi kesehatan di Indonesia. Lingkungan pangan yang sehat adalah hak setiap warga negara, dan sudah saatnya kita semua bergerak bersama untuk mewujudkannya.
Baca Juga
Artikel menarik lainnya untuk Anda



